5 Cara (Tidak Biasa) untuk Menekan Biaya Pernikahan

By alandakariza on under Budgeting, How To

Menyiasati terbatasnya dana pernikahan memang menjadi suatu hal yang tiada habis-habisnya harus kita lakukan sampai pernikahan terselenggara. Setiap hari, kita pasti menemukan penambahan dana di berbagai tempat meskipun kita sudah berkali-kali menyusun perencanaan penggunaan dana.

Berikut beberapa tips untuk menekan biaya pernikahan:

1. Tidak perlu cerita ke semua orang kalau kita akan menikah

Maksudnya, ketika kita sedang hendak membeli sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan, misalnya bahan untuk kebaya, suvenir, maupun proses penjahitan kebaya itu sendiri, ada untungnya jika kita tidak menjelaskan bahwa barang-barang tersebut akan digunakan untuk acara pernikahan. Biasanya, ketika kita membeli bahan kebaya, misalnya, jika penjualnya tahu bahwa kita sedang mencari bahan brokat untuk gaun/kebaya pernikahan, mereka akan mengarahkan kita ke kain-kain yang mahal, begitu juga ketika kita membeli kain tradisional seperti songket maupun batik. Kadang kita terbeli dengan janji bahwa “bahannya lebih bagus” karena akan digunakan “sekali seumur hidup”, padahal mungkin saja ada kain yang sama bagusnya tapi lebih murah. Ada banyak vendor yang menggiring kita untuk mengambil keputusan emosional dalam mempersiapkan pernikahan. Tahukah kamu bahwa penjahit kebaya yang biasanya meminta biaya sebesar 10 – 15 juta rupiah untuk membuat kebaya pernikahan, bisa memberikan harga di bawah 5 juta rupiah jika kita tidak mengatakan bahwa kita sedang memesan kebaya untuk pernikahan? (Kalau tidak percaya, coba saja tanya ke penjahit kebaya: “Kalau kebaya biasa ditambah payet sedikit, biayanya berapa ya, Mbak? Hampir pasti beda jauh dengan harga “kebaya akad” dan “kebaya resepsi” yang ia tawarkan)

2. Pesan jasa wedding organising, bukan wedding planning

Jika kamu berniat untuk menggunakan jasa wedding organiser, pilih jasa untuk wedding organising, yang jauh lebih murah dibanding wedding planning. Beberapa wedding organiser bersedia untuk bekerja denganmu sejak H-90 walaupun jasa yang dipilih adalah wedding organising. Pada banyak kasus, hal ini sudah lebih dari cukup karena pekerjaan yang harus dilakukan sebelum H-90 tidak banyak dan bisa kamu lakukan sendiri.

3. Minta bantuan dari salon langganan

Hampir setiap perempuan memiliki salon andalan! Kebanyakan dari salon andalan ini adalah salon rumahan atau tradisional yang berada tidak jauh dari rumah. Ke mana biasanya kamu pergi untuk mendandani diri sebelum berangkat ke pesta atau acara formal lainnya? Kapster-kapster kamu bisa menjadi pilihan untuk diajak terlibat di acara pernikahanmu. Untuk mendandani keluarga, baik orangtua, saudara kandung, maupun keluarga besar, kita sering mengalami dilema karena paket yang ditawarkan oleh sanggar adat maupun make up artist seringkali membuat budget Kita bisa mengajak kapster dari salon tersebut untuk membantu menyanggul dan mendandani keluarga kita, dan bisa jadi biayanya lebih murah. Walaupun lebih murah, make-up dan hair-do tentunya juga sudah menjadi spesialis mereka, kendati selama ini tidak spesifik untuk acara pernikahan.

4. Gunakan vendor tradisional

Dengan maraknya perkembangan bisnis di industri pernikahan, kita pasti tergoda untuk menggunakan berbagai jasa dari beragam vendor yang kita temukan melalui media sosial. Harga yang ditawarkan, misalnya, 150 ribu rupiah untuk satu kotak seserahan dan 20 ribu rupiah untuk satu buah undangan. Ternyata, jika kita pergi ke vendor tradisional, misalkan penyedia jasa seserahan dan percetakan undangan di pasar tradisional, ada perbedaan harga yang jauh sekali. Pembuatan satu kotak seserahan bisa kurang dari 75 ribu per kotak, sementara percetakan undangan bisa mencapai harga di bawah 8 ribu rupiah untuk satu buah undangan. Penghematannya besar sekali!

Meskipun begitu, perlu diingat, frasa “ada harga, ada barang” pun berlaku di kasus ini. Jika bisnis yang lebih bonafid bisa memberikan servis yang di atas rata-rata, kita tidak terlalu bisa mengharapkan vendor ini untuk memberikan servis yang baik karena cara mereka mengatur bisnisnya pun berbeda. Kendati demikian, kualitas vendor-vendor ini dari segi produk pun tidak perlu diragukan, mengingat mereka sudah malang melintang di industri pernikahan selama bertahun-tahun. Jika memutuskan untuk menggunakan jasa vendor tradisional seperti ini, kita harus lebih proaktif dalam mengontrol kualitas pengerjaan dan mengecek perkembangan proyek. Contohnya, kebanyakan vendor percetakan di pasar tradisional hanya akan mencetak undangan kita paling cepat 2 minggu sebelum Hari H, walau kita sudah menyiapkan desainnya sejak berbulan-bulan sebelumnya. Ketika ini terjadi, jangan ragu untuk “nongkrong” di kantor percetakan sampai undangannya dibuat! Sometimes we have to go the extra mile!

5. Selenggarakan acara pernikahan di hari kerja atau off season

Walaupun belum tentu disetujui oleh orangtua maupun keluarga kamu dan pasanganmu, menyelenggarakan acara pernikahan di hari yang jarang diminati, seperti hari kerja, Bulan Ramadan, maupun hari libur antara Natal dan Tahun Baru, bisa menghemat dana yang harus kamu keluarkan. Banyak ballroom hotel yang bisa memberikan harga sampai 40%-50% lebih murah di hari kerja dibandingkan harga normal di akhir pekan. Mungkin, kamu bisa menyelenggarakan acara pernikahan di hari kerja sebelum atau setelah hari libur nasional. Agak ekstrim, tapi ada beberapa mempelai yang melakukan tips ini lho!

 Apa cara tidak biasa yang pernah kamu lakukan untuk menekan biaya pernikahan?