Perbedaan Prosesi Pernikahan Solo dan Yogya

By The Bride Dept on under How To, Pernikahan Adat

Perbedaan Prosesi Pernikahan Solo dan Yogya

Saat berbicara mengenai pernikahan adat Jawa, banyak orang yang beranggapan bahwa prosesi pernikahan Solo dan Yogyakarta adalah sama. Karena secara geografis kedua wilayah tersebut berada di wilayah Jawa Tengah. Sekilas mungkin memang terlihat sama, namun terdapat beberapa perbedaan dalam rangkaian upacara kedua adat tersebut. Apa saja perbedaan prosesi pernikahan Solo dan Yogya? Simak selengkapnya di sini!

Siraman

Prosesi siraman dalam adat Kraton Surakarta dilakukan oleh sembilan orang. Angka sembilan ini mengandung makna mengenang Wali songo, yang bermakna manunggalnya Jawa dan Islam. Selain itu angka ini juga bermakna babakan hawa sanga yang harus dikendalikan. Sementara siraman menurut adat Kraton Yogyakarta dilakukan oleh tujuh orang. Dalam Bahasa Jawa, tujuh berarti pitu yang maknanya pitulungan atau pertolongan.

Dodol Dawet

Dodol dawet atau berjualan dawet (cendol) adalah prosesi yang dilaksanakan oleh kedua orang tua calon mempelai wanita. Acara menjual minuman manis khas Solo ini melambangkan tekad kedua orang tua untuk menikahkan putrinya. Bulir-bulir dawet yang melimpah menjadi bentuk harapan agar tamu yang datang nanti akan melimpah pula. Warna merah pada gula jawa dan putih pada santan, merupakan suatu simbol keberanian dan kesucian, dan simbol bertemunya pria dan wanita.

Dilaksanakan usai siraman, para tamu yang datang wajib membeli dawet, dengan membayar menggunakan kreweng atau wingka (pecahan genting). Prosesi dodol dawet ini sejatinya hanya ada pada prosesi pernikahan adat Solo, tetapi belakangan ini meskipun pengantin menggelar pernikahan dengan adat Yogya, prosesi dodol dawet kerap dilakukan.

Panggih

Ada beberapa perbedaan pada upacara panggih adat Yogyakarta dan adat Solo. Panggih sendiri merupakan prosesi yang mempertemukan pasangan pengantin setelah mereka resmi menikah, kemudian disandingkan di pelaminan. Dalam adat Yogya, rangkaian prosesi panggih biasanya didahului dengan tarian edan-edanan oleh penari pria dan wanita dengan dandanan jenaka, yang menari layaknya orang gila. Tarian yang memiliki makna sebagai pengusir bala, roh gentayangan yang dapat mengganggu jalannya upacara ini biasanya tidak ditemukan pada upacara Panggih adat Solo.

Penyerahan Sanggan

Sanggan adalah sebuah wadah/bakul yang terbuat dari rotan berbentuk priuk. Pada upacara Panggih adat Yogya, isi sanggan beragam mulai dari sesisir pisang raja, gambir, kembang telon, suruh ayu, dan lawe wenang. Sementara pada adat Solo, sanggan berisi sesisir pisang raja beralaskan kertas keemasan, dan dibawa oleh pihak pengantin pria di barisan terdepan iring-iringan. Secara simbolis, pisang sanggan ini sebagai tanda bahwa pengantin pria ingin menebus pengantin wanita dari keluarganya.

Hiasan Kembar Mayang

Kembar Mayang merupakan rangkaian anyaman janur yang dijadikan hiasan. Pada upacara panggih Yogya, prosesi ini disebut kepyok kembar mayang. Dimana kembar mayang disentuhkan ke pengantin pria untuk membuang sial, lalu dibuang keluar. Pada prosesi adat Solo, setelah disentuhkan kembar mayang dari pengantin pria dibawa masuk dan diletakkan di samping pelaminan. Sementara kembar mayang dari keluarga pengantin wanita dibawa keluar sebagai pembuang sial. Itu sebabnya prosesinya disebut bertukar kembar mayang.

Balangan Gantal

Gantal merupakan daun sirih yang dipilin kemudian diikat dengan benang lawe. Di dalamnya berisi bunga pinang, kapur sirih, gambir, serta tembakau hitam. Gantal adalah simbolisasi pertemuan jodoh antara kedua mempelai yang disatukan dengan benang kasih suci. Balangan berarti saling melempar. Kedua mempelai akan saling melempar gantal kepada satu sama lain.

Pada upacara panggih Yogya, ada 7 gantal yang dilempar, 4 dibawa oleh pengantin pria dan 3 dibawa pengantin wanita. Kemudian gantal dilemparkan secara bergantian ke area dahi, dada, dan lutut. Pada upacara Panggih Solo, masing-masing hanya melempar 1 gantal. Mempelai wanita melempar gantal ke arah kaki mempelai pria sebagai simbol kepatuhan istri kepada suami, dan mempelai pria melempar ke arah jantung sebagai tanda ia akan menyayangi dan mengayomi istri.

Wiji Dadi/ Wijikan / Ngidak Tigan

Pada upacara Panggih Yogya, prosesi ini dikenal juga dengan nama wijikan atau ranupada, yang artinya membasuh atau mencuci. Diawali dengan mempelai pria meletakkan kakinya pada sebuah nampan yang telah diberi irisan daun pandan dan bunga melati. Lalu mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria dengan air bunga setaman. Setelah itu pengantin wanita mengelapnya, sebagai tanda pengabdian istri kepada suami. Mempelai pria kemudian membantu pasangannya untuk berdiri dan saling berhadapan. Pemandu adat akan menyentuhkan telur ayam mentah ke dahi masing-masing mempelai.

Pada upacara Panggih Solo, prosesi yang juga disebut Ngidak Tigan telur akan dipecahkan oleh pengantin pria. Hal tersebut mengartikan ia telah siap memberi keturunan. Caranya dengan meletakkan telur di atas baki yang kemudian diinjak oleh pengantin pria. Setelah telur dipecahkan, pengantin wanita akan membasuh dan membersihkan kaki suaminya.

Demikian perbedaan prosesi pernikahan adat Solo dan Yogya, sekarang para bride-to-be sudah mengetahui dengan jelas apa saja yang membedakan dari kedua adat tersebut.

Photo : Mindfolks